<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=13458168&amp;blogName=Bismillahirrohmanirroheem&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fdinawindi.blogspot.com%2F&amp;blogLocale=en_US&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fdinawindi.blogspot.com%2Fsearch" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

Sebuah PertemuaN

Wednesday, July 01, 2009


Ketika diri mencari sinar
Secebis cahaya menerangi laluan
Ada kalanya langkahku tersasar
Tersungkur di lembah kegelapan

Bagaikan terdengar bisikan rindu
Mengalun kalimah menyapa keinsafan
Kehadiranmu menyentuh kalbu
Menyalakan obor pengharapan



Tika ku kealpaan

Kau bisikkan bicara keinsafan
Kau beri kekuatan,
tika aku Diuji dengan dugaan?

Saat ku kehilangan keyakinan
Kau nyalakan harapan
Saat ku meragukan keampunan Tuhan
Kau katakan rahmat-Nya mengatasi segala


Menitis airmataku keharuan
Kepada sebuah pertemuan
Kehadiranmu mendamaikan
Hati yang dahulu keresahan

Cinta yang semakin kesamaran
Kau gilap cahaya kebahagiaan
Tulus keikhlasan menjadi ikatan
Dengan restu kasih-Mu, oh Tuhan


Titisan air mata menyubur cinta
Dan rindu pun berbunga
Mekar tidak pernah layu
Damainya hati Yang dulu resah keliru

Cintaku takkan pudar diuji dugaan
Mengharum dalam harapan
Moga kan kesampaian kepada Tuhan
Lantaran diri hamba kerdil dan hina

Syukur sungguh di hati ini
Dikurniakan teman sejati
Menunjuk jalan dekati-Nya
Tika diri dalam kebuntuan

Betapa aku menghargai
Kejujuran yang kau beri
Mengajarku mengenal erti Cinta hakiki yang abadi
Tiada yang menjadi impian Selain rahmat kasih-Mu Tuhan
Yang terbias pada ketulusan


Sekeping hati ...
seorang insan ...
Bernama teman ...



-- by UNIC --

.....

Thursday, June 18, 2009



percuma saja semua itu..
jika tak ada yang memahami..

Tak bisakah kita belajar dari hal kemaren??
Tak bisakah kita menjadi lebih baik dari kemaren??
Entah apa itu substansinya...

Adakah substansi??
Adakah asa??
Atau justru ada luka?

semua berjalan dengan keegoisan..
aku kah?

ketidak baikan..?
aku kah?

yah... mungkin akan selalu aku?
itu kah?

segala tanya tak pernah terjawab...

Ada jawab tapi tidak
Ada isi tapi kosong

mengertikah?
pahamkah?




Imaji ....

Monday, May 25, 2009


Banyak kata yang terucap
seakan menyususn sebuah puzzle
semua terungkap...
semua terbaca...
semua tersingkap...

Awalnya...
Ahh... mungkinkah ku salah dalam menyusun puzzle?
Tak ada sinkronisasi...
walaupun ada...

Siapakah dia...??
dan dia... ?

Ucapan selamat itu memang kudapat..
tetapi aura sedih pun tetap jua aku lihat...

Bisakah bahagia dengan begini ??
Bisakah senang dengan begini ??

aku melihat...
ini sebuah kesalahan..
kesalahan yang ingin kuhentikan dari awal...
tapi tak kuasa aku...

aku melihat...
pada dirimu ...
dalam ikhlas ada harap ...
dalam harap ada keinginan ...
dalam keinginan ada cemas ...

Salahkah istiqomahku kini ...??

Segalanya...
hanya dapat berakhir dalam jiwa...
dalam imaji yang aku tak tau...


-- Mudahkanlah dalam setiap langkahku Ya Rab... --
-- Bimbinglah semua dalam keredhaanMu.. Ya Rabb.. --
Amiin

Harapanku padaMU..

Friday, May 15, 2009




Cukup...
Cukup sampai disini..
sepatah dua patah kata
yang terucap..

Kemudian..
Biarlah sikap dan perbuatan yang berkata
untuk mewakili sebuah rasa ini..

Jangan ada tanya..
meski sebenarnya jawablah yang engkau perlukan
tapi biarlah semua itu ada...
seiring dengan berjalannya waktu ...

Lihatlah...
Dengarlah...
dan pahamilah ...


-------------------

waktu yang telah berlalu
memang tak kan pernah bisa di pinta kembali...

tapi biarlah aku disini mengharap dan berharap
Karena Segalanya bergantung padaNya...

-- Sampaikanlah segalanya dengan caraMu ya Rabb... --
Amiin

Selamat Berjuang ...

Tuesday, May 05, 2009


Aku tau..
keputusan itu..
membuatmu sennag
akan keinginanmu dalam cita

Namun sekaligus takut
jika iya adanya ...

Ada harap..
Bahkan ada cemas..

Bukankah engkau percaya dan yakin akan usaha keras?

Iya atau tidak...
kuharap itu yang terbaik..

Tapi aku yakin..
engkau dapat memikul amanah itu..
Walau banyak ancaman
dalam lingkunganmu..

Dan akupun juga tau..
Bukan kedudukan yang kau ingini...
bukan ambisi pula...

Pintaku..
Tetap berjuang..
Wahai Sang Pemimpin Muda...


Laila Majnun

Wednesday, April 15, 2009


Laila Majnun, sebuah kisah dari cerita rakyat arab, tentang kecantikan seorang gadis bernama Laila, yang menarik hati seorang pemuda, Qais keturunan Bani Amir.


Qais yang semula pandai, gagah dan berasal dari kabilah terhormat, menjadi �majnun� alias gila, karena kasihnya yang tak sampai. Qais, yang tersiksa karena takdir yang selalu memusuhinya, sedang hasrat tak mampu ditundukan hatinya, menjadikan dia lupa akan hakikat hidupnya sendiri. Walau kegilaan yang dialaminya mengilhami tutur bahasa sastra yang indah, dan ketulusan jiwa dalam derita cinta, tetap saja sebutan �majnun� tak dapat ditepisnya.

Kisah tentang Qais dan Laila yang hidup di suatu negeri wilayah tanah Arab. Qais yang berwajah tampan dan Laila yang terkenal akan kecantikannya, yang menjadi dambaan setiap laki-laki. Akhirnya cinta mereka kandas karena adat melarang mereka untuk mengekspresikan gelora cintanya. Maka, tumpah ruahlah segala rasa rindu dan cinta dalam bentuk syair dan puisi yang mengalir menentang takdir mereka.

Suatu ketika Qais memutuskan ikut berniaga ke negeri lain bersama ayahnya agar kelak ia memiliki bekal pengetahuan sendiri tentang perniagaan. Ketika pamit kepada Laila, Qais memberikan seuntai kalung mutiara sebagai tanda kesetiaannya. Qais minta Laila berjanji untuk melepaskan sebuah mutiara dari untaiannya apabila waktu sudah menunjukkan bulan baru. Ia pun berjanji akan kembali sebelum untaian mutiara habis.

Meskipun sangat sedih, Laila merelakan kekasihnya pergi mencari pengalaman.

Sepeninggal Qais, Laila hanya bermenung diri dan menciptakan syair sebagai pelambang rindu. Suatu hari, ayah Laila, Al-Mahdi, pulang ke rumah bersama seorang tamu bernama Sa�d bin Munif, yang diajak menginap. Tamu itu seorang saudagar kaya raya yang berasal dari Irak. Ketika berjumpa Laila, Sa�d bin Munif langsung jatuh cinta dan melamar Laila kepada ayahnya. Tanpa sepengetahuan Laila, Al-Mahdi menerima lamaran tersebut karena tergiur oleh mas kawin 1.000 dinar dan harta kekayaan Sa�d bin Munif. Laila tak berdaya melawan perintah ayahnya karena adat memang menyatakan bahwa laki-laki berkuasa atas perempuan. Sementara itu, Qais yang telah memasuki bulan ke-9 ikut berniaga ke negeri-negeri seperti Damsjik, Jerusalem, Hims, Halab, Anthakijah, Irak, Koefah, hingga Basrah tidak dapat lagi menahan rindunya terhadap Laila. Wajahnya tampak muram dan badannya semakin kurus. Ayah Qais melihat kesedihan anaknya dan menanyakan ada apakah gerangan yang telah mengganggu pikirannya. Akhirnya Qais berterus terang tentang kisah cintanya dengan Laila. Demi mendengar penuturan anaknya, Al-Mulawwah memutuskan segera kembali ke kampung halamannya dan berjanji akan melamar Laila untuk Qais. Ketika sampai kampung halaman, Al-Mulawwah bergegas menemui ayah Laila dan menawarkan 100 unta sebagai pengganti uang 1.000 dinar yang telah diberikan Sa�d bin Munif. Akan tetapi, dengan sombongnya, ayah Laila menolak lamaran Al-Mulawwah. Tak berapa lama kemudian, pesta perkawinan Laila dan Sa�d bin Munif diselenggarakan secara besar-besaran. Maka, hancur luluhlah hati Qais. Tak ada satu obat pun yang bisa menyembuhkan sakitnya ini, meskipun orangtuanya telah mendatangkan banyak tabib ternama. Sejak itu Qais tidak mau berbicara kepada orang lain, ia sibuk dengan dirinya sendiri dan sering kali terlihat berbicara sendiri. Karena perilaku aneh inilah orang sekampungnya memanggil Qais dengan Majnun, yang berarti kurang sempurna pikirannya.

Akan halnya Laila, meskipun kini telah menjadi istri Sa�d bin Munif, ia tetap mencintai Qais. Menurut Laila, secara fisik ia boleh menjadi istri Sa�d bin Munif, tetapi jiwanya tetap untuk Qais. Dalam ungkapannya, di dunia Qais dan Laila bukanlah pasangan suami istri, tetapi di akhirat mereka menjadi pasangan abadi. Karena tak kuat menanggung penderitaan cinta ini, Laila sakit dan selalu memanggil nama Qais. Akhirnya Qais pun dipanggil untuk menemui Laila. Ketika mereka bertemu, Laila memberi pesan terakhir bahwa mereka akan bertemu nanti di akhirat sebagai sepasang kekasih. Demi melihat kekasihnya meninggal, putus asalah Qais. Tak ada lagi keinginannya untuk hidup. Sehari-hari kerjanya hanya duduk di pusara Laila hingga akhirnya Qais meninggal. Maka, jasad Qais pun dibaringkan di samping pusara Laila.

Kira-kira 10 tahun kemudian, beberapa musafir menziarahi kubur mereka berdua. Di atas kedua pusara itu telah tumbuh dua rumpun bambu yang pucuknya saling berpelukan. Maka, masyhurlah kisah ini sebagai kisah Laila-Majnun.


--------------------------------------------

Laila Majnun hanyalah sebuah kisah cinta sepasang manusia biasa, yang mungkin menerpa kita juga. Tak perlu kita mengagungkan perjuangan cintanya karena hal itu sama saja menggugat takdir yang diberikan Allah.

Cinta adalah bumbu kehidupan yang menjadikan indahnya perjalanan hidup manusia.

Cinta bukanlah tujuan dari keberadaan manusia di dunia, bukan pula akhir dari perjuangan di alam fana. Cinta hanyalah kendaraan untuk meraih kebahagiaan sejati, yaitu keridloan Allah untuk mendapatkan surga, yang luasnya seluas bumi dan langit.



When I m Falling Love....It will be completely Or I never Fall in Love...

(Dapatkah aku menerapkannya dalam mencintai Allah & Rasul ???)


Sumber : http://rkyu.blogdrive.com

selamanya ...



Memori semalam hadir bersama

Sebuah kisah luka
mengingatkan aku akan
Keagungan Tuhan

Sengketa yang melanda
Membuatkan aku sesal sendiri
Perlukah ianya berakhir sebegini
Kini ku sedar setelah lama
Ku mencari
Sebuah persahabatan

Perjalanan kita ini masih jauh
Penuh dengan onak duri
Penuh cabaran
Dan jua rintangan

Perjalanan yang jauh ini
Perlukan teman-teman yang
Memahami yang sejati
Mampu membimbing diri ini

Silaturahim yang telah
Terjalin kini
Bersamalah kita hargai
Walaupun kita terkadang
Bersengketa
Itukan lumrah
Mendewasakan kita

Pengalaman yang dilalui semlam
Mengajar kita hakikat kehidupan
Suka duka kita tempuhi bersama
Menjadi kenangan indah kekal

Untuk selamanya



Brother-selamanya

Maaf.. Ukhti...

Tuesday, April 14, 2009



Ukhti...
aku memang tidak sepertimu
yang seorang aktivis..
yang seorang muslimah sejati...

Oh ukhti...
Andai emgkau tau..
bahwa hati ini kagum terhadap sikap
dan prinsip darimu...

Tapi ukhti...
maaf..
aku ini cuman insan biasa
yang tak lepas dari rasa kecewa...

Maaf Ukhti..
Jika diri ini yang tidak bisa dibandingkan dengan perjuanganmu
menjadi kecewa akan sikap itu..

Ukhti..
Taukah kamu..
Aku pernah berjanji terhadap diri sendiri..
Apapun yang akan terjadi kelak..
aku harap ukhuwah kita tetap terbina...

Oh...Uhkti...
Maaf jika aku kecewa...bahkan sangat..
Terhadap kata itu
yang menjelaskan tentang sebuah keadilan itu..

Sebegitukah persepsimu tentang keadilan itu Ukhti??

Dan kemudian..
Apa yang terjadi setelah kata itu terucap..?

Itukah yang dinamakan keadilan bagimu Ukhti...

Maaf..
Maaf dengan sangat ukhti...
Logikaku..
perasaanku...
bahkan hatiku tak bisa menerima itu semua...

Taukah kmu Ukhti apa yang aku rasakan??
Perasaanmu sungguh..
selalu aku coba untuk ku pahami??
Karena kita sama..
kita sama2 dari kaum hawa ukhti...
Masing2 dari diri kita mempunyai perasaan yang sama...

Ukhti..
Sungguh ku terlalu percaya
dan kagum terhadapmu
akan amanah itu...
karena kuyakin..sangat yakin
engkau memahamiku..

Sekali lagi maaf ukhti...
Semua itu sangat berlawanan dengan kenyataan??

Aku tak pernah dan tak akan menyalahkan sebuah perasaan??
Bukankah itu semua fitrah...
Tapi cara ukhti..
Cara itu yang terpenting buatku...

Hmm..
Apakah ukhuwah kita masih bisa terbina kembali ukhti??
bisakah seperti dulu??

Seandainya engkau tau ukhti...
Diri ini hanya butuh kejelasan...
keterbukaan..
dan pengertian...
darimu maupun dia...

Agar aku tak bertanya tanya..
Agar aku tak menduga2

Uhkti...
Maaf dengan sanagt...



------------------------------------------------------------------------
Ya Illahi Robbi...
Engkau Maha melihat segala hal yang terjadi..
Engkau Maha mendengar segala hal yang terucap
di hati maupun yang terlafazkan...

Ya Illahi Robbi..
bukalah mata hati ini...
Hindarkan diri ini dari rasa kecewa yang berlebih..
hingga kemudian berubah menjadi rasa dendam..

Sungguh tak ingin Robbi...
Tak ingin hati ini terkotori oleh rasa itu...

Robbi..
Mohon dengan sangat
bantu diri ini untuk ikhlas..
dan tetap tawakal..

Bantu diri ini untuk mensucikan hati
dan pikiran yang negatif serta merugikan...

Ampuni segala khilaf yang hamba perbuat Robbi...

Amiin...